Dosen di kelas pernah tiba-tiba bertanya kepada saya, "Ibu berminat menjadi caleg? Karena 30% memang dijatahkan buat wanita." Saya jelas-jelas langsung bilang "Tidak berminat".
Tapi jujur setelah itu, saya jadi ingin tahu kenapa banyak orang yang berminat menjadi caleg selain alasan gaji dan tunjangan yang cukup memadai. Apalagi di jaman sekarang dimana korupsi benar2 diselidiki, lihat saja berapa banyak anggota DPR yang sudah berada nyaman di Rutan. (katanya kalo korupsi benar-benar diberantas, bisa-bisa DPR kehilangan 100% anggotanya....).
Para artis atau selebriti (kata mereka) juga tidak ketinggalan mengajukan diri sebagai caleg, dan banyak yang berusaha membela diri kalo mereka juga sekolah S1, S2, biasa membaca buku dan alasan lain sehingga mereka merasa pantas menjadi caleg. Membuat saya makin kagum dan terperangah....
Menurut saya (yang mungkin sense of challenge-nya udah mati) amat sangat sulit baik menjadi caleg ataupun telah benar-benar diangkat jadi anggota DPR. Pertama, harus punya dana sendiri buat memperkenalkan diri serta program-program yang akan dilakukan buat rakyat. Atau cari sponsor... (anyway nanti balas budi ke sponsornya apa ya???). Kedua, program2 apa sich yang mau dibuat. Saya percaya banyak sekali idealisme yang kita punya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat... Tapi mewujudkan program2 idealisme menjadi realita??? (Jadi inget suatu artikel di tabloid yang berisi wawancara dengan caleg yang dengan amat sangat antusias akan menyuarakan pendidikan sebagai wacana penting meningkatkan kesejahteraan rakyat, tapi menjadi tergagap ketika ditanya program kongkret yang akan dilaksanakan) Ketiga, menghadapi permasalahan saya pribadi saja, saya sering putus asa, marah, jengkel, pusing. Bagaimana saya bisa menghadapi permasalahan negara dan rakyat??? Keempat, kalau sudah menjadi anggota DPR terus ada yang memberikan cek atau uang..... Jujur aja... Kalau saya pasti nggak bisa nolak.....
Di akhir kuliah, Bapak dosen bertanya lagi, "Sudah punya bayangan mau memilih partai apa ketika Pemilu?" Spontan saya jawab, "kemungkinan besar saya Golput, Pak." Bapak Dosen itu geleng-geleng kepala. Tapi, Bp Dosen yang terhormat, ternyata menurut pengamat politik Arbi Sanit, kemungkinan 40% peserta Pemilu akan golput, jadi saya bukan orang "freak", mengingat banyaknya orang yang satu pemikiran dengan saya.
Anyway, i hope someday there will be someone or even more who can lead our beloved country with nothing but heart.
Selasa, November 18, 2008
Jadi Caleg???
Diposting oleh indah fitriana di 22.40
Kamis, Juli 10, 2008
Good Person
Dua bulan terakhir ini, saya memasuki suatu lingkungan baru yang tentu saja otomatis mengenal orang-orang baru. Dari puluhan orang-orang tersebut (yang seperti biasa belum saya hafal semua nama2nya karena saya tipe orang yang sangat amat sulit hafal nama orang), saya menemukan seseorang yang amat spesial.
Saya mudah kagum sama tipe orang pintar yang biasanya saya bisa kenali dari 2 kali kesempatan berbicara dengan orang tersebut. Biasanya orang pintar itu punya ide-ide ekstrem dan secara langsung atau tidak langsung menambah wawasan saya yang masih sempit ini.
Tetapi, teman spesial saya ini, saya kagumi bukan karena kepintarannya. Pokoknya ya karena dia begitu spesial... (duh susah banget mengungkapkan kekaguman yang begitu besar). Saya menganggapnya sebagai kakak. Manusia luar biasa dengan akhlak yang begitu baik. Sangat sulit menemukan tipe orang seperti ini pada zaman sekarang.
Salah satu contoh adalah ketika kami sedang berkumpul, membicarakan hal-hal yang tidak jelas yang akhirnya jadi bergunjing. Tapi, kakak saya ini tidak terdengar sepatah kata pun keluar dari mulutnya.... Malah tanpa kita sadari tiba-tiba dia menghilang. Membuat saya jadi malu hati sendiri.
Atau kesabarannya yang luar biasa menemani saya role play. Dia benar-benar tertawa melihat kepanikan saya karena dia bilang baru sekali ini dia melihat saya kehilangan kepercayaan diri.
Berdiskusi dengan dia, membuka pandangan saya tentang hidup ini. Perumpamaan yang dia ungkapkan benar-benar menyentuh. Hidup kita seperti gelas yang sudah diisi sebagian. Dan kita terus menerus mencari air untuk memenuhi gelas itu bahkan sampai tumpah. Kenapa kita tidak mencoba bersyukur dengan setengah gelas air tersebut dan mencoba menikmati air itu untuk menghilangkan dahaga kita.
Kalau saja mencoba jujur dan membandingkan dengan gelas orang lain, gelas saya sudah terisi lebih dari setengah. Begitu banyak karunia yang telah diberikanNYA. Dan saya masih tetap berusaha mencari air terus...
Atau ketika Dia berkata "Jangan menunggu berubah sampai ketika ditegur oleh Allah. Berubahlah karena kita memang tahu perubahan itu untuk kebaikan diri kita sendiri. Belajarlah dari kepahitan hidup orang lain. Jangan menunggu sampai kita merasakan kepahitan itu sendiri."
She is such a great person...dan merupakan kesempatan yang berharga mengenal dirinya... Mbak, kamu membuat saya mengetahui kesalahan saya, membenarkan langkah saya, tanpa mbak sadari.......terima kasih, mbak.......
I just wanna be a good wife, great mother, and honour lady...
Diposting oleh indah fitriana di 06.47
Jumat, April 18, 2008
MOTIVASI
Kinerja perusahaan tentu saja tergantung pada kontribusi seluruh karyawan dalam perusahaan tersebut. Semakin baik seorang karyawan bekerja maka kontribusi terhadap perusahaan pun semakin besar. Salah satu determinan yang penting bagi kinerja seseorang adalah motivasi. Banyak sekali teori motivasi yang dikembangkan oleh para pakar.
Sebut saja teori motivasi Maslow, Maslow’s Need Theory, yang berbentuk pyramid dengan susunan kebutuhan dasar, rasa aman, social, penghargaan atau penghormatan serta aktualisasi diri. Lalu ada juga Alderfer’s ERG Theory, Hersberg’s Two-factor Theory, McClelland’s Learned Needs Theory, dan masih banyak teori lainnya yang bisa kita temukan di buku-buku. Karena saya sedang tidak ingin mengutip buku-buku dan menulis hal-hal yang terlalu serius…
Tapi saya pernah mendengar suatu teori menarik yang dikemukan oleh ulama yang sedang berkhobah. Menurut bapak ulama tersebut, seharusnya teori Maslow dibalik… karena sebagai seorang muslim… kebutuhan utama kita adalah aktualisasi diri kepada Sang Pencipta. Sudut pandang yang sangat baik untuk menggetarkan hati saya…..
Sebenarnya yang saya mau ceritakan adalah bahwa... akhir-akhir ini di kantor saya, sedang terjadi fluktuasi motivasi di hampir seluruh pegawai. Yang menjadi soal adalah gosip-gosip yang beredar tentang bonus atau insentif serta kenaikan gaji. Gosip akan dibagikan bonus yang katanya cukup lumayan, gosip kenaikan gaji serta gosip kapan akan dikredit ke rekening karyawan, Yang lucunya sampai hari ini…. belum ada realitanya…. (Direksi….. saya nggak protes kok…. cuma cerita…)
Fenomena seperti ini terjadi setiap tahun di kantor saya. Bahwa gosip-gosip yang menyenangkan untuk memotivasi karyawan, membuat karyawan lebih rajin masuk ke kantor dan mudah-mudahan juga lebih rajin bekerja. Tapi yang ditakutkan adalah kalau gosip yang sudah beredar tidak dikuti dengan realita yang menyenangkan. Bayangkan penurunan motivasi yang drastis dari tiap karyawan…..
Cuma berdasarkan pengamatan saya, sebenarnya yang jadi motivasi apakah gosip-gosipnya atau penghargaannya. Karena justru dengan adanya gosip inilah yang membuat karyawan berharap-harap cemas, tetapi ketika hari “H”… toh lewat begitu saja…. Dan apa yang dilakukan???? Mencari gosip baru yang lebih menyenangkan lagi…. Misalnya ada saja yang iseng mengeluarkan berita bahwa THR akan dibagi sebesar tiga kali gaji…. Motivasi buat bekerja sambil menunggu hari “H” pembagian THR… pasti akan meningkat….
Bicara mengenai motivasi kerja, saya jadi bertanya-tanya…. Apakah selalu pada akhirnya uanglah motivasi terbesar karyawan untuk meninggalkan kehangatan tempat tidur pada pagi hari, dan bersiap-siap serta menuju ke kantor…. Dari hasil diskusi nyeleneh (biasalah wanita-wanita yang tingkat kewarasannya di ambang batas….) antara saya dan teman-teman gank saya…(love u guys)…. Bahwa punya gebetan di kantor bisa jadi motivasi tersendiri….. Ya… klo teman-teman saya yang masih single sich nggak masalah punya gebetan di kantor…. But girls… jangan sampai… he is another woman’s man…. Klo saya… nggak boleh dong punya gebetan…. Cause my heart only for U, Bang…. (Insya Allah).
Diposting oleh indah fitriana di 22.36
Kamis, April 17, 2008
I miss him...
Dia, laki-laki itu...
Pertama kali mengenalnya, kesan yang saya dapat amat sangat negatif...
Kata-kata yang dilontarkan, joke-joke yang dilemparkan sungguh amat tidak sesuai dengan statusnya. Semenjak saat itu saya pikir, akan lebih baik tidak berada di sekitar laki-laki ini. Untungnya pekerjaan saya tidak perlu berhubungan dengan orang ini.
Tapi pada suatu hari, saya merasakan tiba-tiba langit di atas saya runtuh, ketika teman baik saya mengabarkan adanya rotasi pekerjaan dan...
Dia, laki-laki itu....
Ya... dia menjadi bos saya, atasan saya, tempat saya mempertanggungjawabkan pekerjaan saya. Tapi dunia kerja dituntut profesional.... suka tidak suka saya harus menjalaninya.
Lucu, yang saya dengar dari sahabat saya, dia juga merasa tidak suka dirotasi, karena...saya.
Akhirnya, toh pekerjaan tetap harus dijalankan, saya mencoba bersikap apa adanya demikian pun dia. Memang benar pepatah, tak kenal maka tak sayang.... setiap hari bekerja bersama bapak satu itu... ternyata menyenangkan.
Dia mau menerima pendapat semua bawahannya, dia menjalankan sistem demokratis yang amat sangat bebas, sehingga banyak sekali dari kita bawahannya yang bebas menyatakan pendapat, isi hati, isi kepala.....
Dia juga sangat dermawan...traktir terus.....
Walaupun hal2 jelek awal perkenalan dulu masih juga melekat... tp it's nothing.
Satu hal yang paling saya ingat adalah ketika kami sedang rapat, dia menyatakan sesuatu yang bisa menyusahkan saya, langsung saya tendang saja kakinya (di bawah meja).... Lepas rapat... dia hanya tertawa saja dan bilang.... "elo adalah anak buah paling nekat... yang berani nendang bosnya".
Awal Agustus 2007, dia... laki-laki itu....
Mulai tidak masuk.... dan bilang sakit batu ginjalnya kambuh lagi... Iseng saya mengganggunya dengan mengirimkan sms yang menyatakan saya tidak percaya dan mau inspeksi mendadak ke rumahnya....
17 Agustus 2007, saya dapat sms dari teman saya.... "Pak Rudi masuk rumah sakit, kena serangan jantung." Jantung saya langsung terasa jatuh.... bayangan yang tidak-tidak mulai menghantui saya...
Membesuknya di rumah sakit, dia tetaplah dia... yang masih kelihatan tegap dan bandel.... dia memperkenalkan kami (saya dan temen saya) kepada istrinya...."Ini preman-preman di kantor"....
22 Agustus 2007, jam 9 malam, iseng saya mencoba melihat HP saya, yang amat sangat jarang saya cek klo sudah di rumah, terdapat sekian missed calls dan beberapa sms, dan memang benar berita itu....
Dia, laki-laki itu..., bos saya..., seseorang dengan pemikiran bebas, seseorang dengan pola hidup menyenangkan..., seseorang yang selalu mau mendengar pendapat saya..., seseorang yang kadang-kadang dengan kata-kata cueknya bisa menyentuh kesadaran saya,... telah pergi... untuk selamanya...
Saya ingat pesan bijak terakhirnya sekitar Juni 2007 ketika sedang diskusi penilaian kinerja, "tahun depan elo bisa naik pangkat, Indah". Dan saya menganggapnya
angin lalu....
But, In this year... I made it, Boss.....
I miss him... miss him so much....
Diposting oleh indah fitriana di 20.54
Label: Dedicated to T. M. Rumansyah
Senin, Maret 17, 2008
What a woman wants
Sudah cukup lama juga nggak nyentuh blog ini... sampai lupa sama passwordnya..he..he..he....Anyway, emang sibuk sich...
Di kantor beberapa bulan yang lalu ada tes promosi.. Banyak yang semangat... Nggak sedikit yang hopeless... Banyak plus minus dari promosi ini... Promosi itu bisa dipandang dari berbagai sisi. Kenaikan pendapatan, kenaikan status (masa sich??) Kalau menurut saya.. promosi salah satu hal yang bisa memotivasi karyawan untuk menunjukkan eksistensinya... not only about money (karena klo yang ini tanggung jawab suami tercinta...curang ya....)
Lanjut lagi, ternyata promosi di kantor.... selain menghadapi tes macam-macam (standar sich...), pesertanya yang amat sangat banyak karena adanya kelonggaran persyaratan masa kerja. Peraturan baru ini seperti biasa ada yang pro ada yang kontra. Kalau menurut saya lagi... apapun aturannya... selama tidak ada pihak yang dirugikan... it's ok. Karena dengan diikutkannya pegawai-pegawai yang masih muda, tidak berarti persaingan, dimana pegawai-pegawai yang sudah tua harus berpacu dengan yang muda, karena sistem promosi ini berdasarkan passing grade bukan berdasarkan quota. Jadi semua peserta bersaing dengan kemampuannya masing-masing.
Klo pun sudah lulus beberapa tahapan tes, ujian berikutnya adalah pendidikan... klo istilah bekennya di kantor dikarantina...
Teman-teman saya yang wanita.... sebenarnya menghadapi dilema dengan promosi ini... Pendidikan yang harus konsentrasi penuh... bagaimana dengan keluarga... Tidak boleh absen dalam 3 bulan... bagaimana klo anak sakit...Lalu setelah pendidikan, penempatan yang baru... bagaimana lagi keluarga...
Lalu, terpikir lagi hal itu.... apakah memang kodrat wanita untuk di rumah saja???
Diposting oleh indah fitriana di 19.58
Selasa, Desember 18, 2007
Sistem Pembukuan Transaksi
Setiap perusahaan dalam menjalankan roda bisnisnya, pasti membutuhkan orang lain atau perusahaan lain yang menjadi rekan bisnisnya untuk mencapai tujuan dari perusahaan itu. Tidak terkecuali perbankan, walaupun Core Business dari dunia perbankan adalah melayani kebutuhan nasabahnya, seperti Deposit, Withdrawal, Loan dan lain sebagainya. Perbankan juga membutuhkan pihak ketiga untuk membangun kios ATM, merenovasi gedung atau bahkan pengadaan barang untuk kebutuhan operasionalnya.
Untuk setiap transaksi yang terjadi akan menimbulkan hutang baru bagi Bank dan untuk pembayaran hutang tersebut dibutuhkan sebuah sistem yang gunanya untuk mempermudah dan mempercepat terprosesnya pembayaran ke pihak ketiga (vendor) tersebut. Untuk setiap transaksi tersebut di atas Bank A memilih sistem X untuk melakukan pembayaran tersebut.
Diharapkan dengan penerapan sistem X ini transaksi yang dilakukan akan menjadi lebih cepat dan mempermudah kerja user. Namun pada kenyatannya sering sekali terjadi kesalahan yang disebabkan oleh user itu sendiri maupun sistem, yang akhirnya memperlambat kerja user dan pembayaran ke vendor itu sendiri. Dalam penerapannya tidak jarang sistem memberikan hasil yang tidak sesuai dengan data yang dimasukkan user dan prosedur pengoperasian standar.
User salah memasukkan data pada sistem yang mungkin disebabkan karena kelelahan user, user kurang teliti ketika melakukan input data, kuantitas pekerjaan tidak seimbang dengan kualitas personil. Banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan, kurangnya personil di dalam sebuah tim kerja, membuat seorang pegawai harus kerja ekstra, terutama pada akhir bulan. Mengingat biaya yang menjadi kewajiban di bulan bersangkutan, harus dibayarkan atau dibebankan pada bulan bersangkutan pula, sehingga tidak akan menjadi biaya yang dicadangkan. User pasti memiliki banyak data yand harus diposting, banyak pembayaran yang harus segera dibayarkan. Hal inilah yang terkadang memicu banyak user melakukan kesalahan, karena harus mengejar target, terkadang user kurang teliti. Padahal bukan hanya satu orang yang memeriksa pembayaran, tetapi berlapis, mulai dari pelaksana, supervisor, kepala seksi, sampai dengan kepala departemen. Tetapi terkadang kesalahan tersebut tetap dapat terjadi dan akhirnya harus dilakukan koreksi.
Apabila user salah membukukan transaksi maka user harus membuat bon jurnal dan melakukan input GL to GL untuk mengkoreksi buku besar mana yang salah posting. Namun yang menjadi kekhawatiran adalah bagaimana jika yang terjadi adalah salah mengkredit ke rekening dengan jumlah yang material, dimana seharusnya dikredit ke rekening A tetapi yang dikredit adalah rekening B. Jika kasus yang seperti ini terjadi dimana sudah melibatkan pihak ketiga jalan keluar yang diambil tidak semudah ketika salah buku, namun harus dilakukan tindakan persuasive dan meminta pihak ketiga untuk mengembalikan uang yang salah ditransfer tersebut, juga menjelaskan kejadian yang terjadi.
Disinilah setiap individu harus memiliki ketelitian yang tinggi, user tidak dapat hanya memperhatikan salah satu bagian dari dokumen yang dipostingnya namun harus secara keseluruhan.
Kebijakan input data menentukan pengendalian pada proses input. Untuk memeriksa pengendalian pada keseluruhan data selama proses dan tahap output, user harus mengerti dimana sistem menempatkan data dan fungsi dari sistem tersebut. Setiap user harus mengetahui setiap modul yang menjadi bagian dari pekerjannya, dimana untuk setiap modul yang sudah menjadi bagian dari pekerjaannya itu pasti user akan memiliki otorisasi untuk memasuki modul tersebut. User harus tahu dimana data ditempatkan, bagaimana cara untuk mencari atau menambah vendor, mengetahui apakah sebuah tagihan sudah dibayarkan atau belum. Semua yang menjadi bagian dari pekerjaannya harus diketahui dan dipelajari dengan baik. Pada kenyataannya banyak user yang tidak mengetahui isi dari keseluruhan modul yang sudah dia miliki otoritasinya. Padahal tidak semua user memiliki otorisasi untuk dapat mengakses ke menu tersebut.
Salah satu contoh adalah, user yang tidak tahu cara mencari apakah tagihan vendor sudah terbayarkan atau belum, dimana pembayaran ini dapat dicari dengan memasukkan nomor rekening vendor atau mencari nomor vendor tersebut. Ketika ditelesuri mengapa user memiliki kesulitan untuk mencari adalah akrena TCODE atau kode untuk masuk ke modul tersebut harus dihafal dan tidak ada shortcut untuk masuk ke modul tersebut. Begitu banyaknya TCODE yang harus dihafal terkadang membuat user lupa dan sulit untuk terus mengingatnya jika menu tersebut jarang digunakan. Setiap user harus meyakini bahwa data yang dimasukkan benar. Apakah setiap field yang diisi telah sesuai sengan yang seharusnya? Sebagai contoh, format tanggal yang dimasukkan harus seuai, apakah bulan-tanggal-tahun atau tanggal-bulan-tahun, setiap user harus mengerti format penanggalan tersebut. Penanggalan yang salah dapat mengakibatkan salah persepsi dari orang lain yang membutuhkan data. Program juga harus memiliki kemampuan untuk memberikan peringatan (warning) kepada user jika data yang dimasukkan salah, terutama data yang dimasukkan pada file master. Kesalahan pada file master dapat mengakibatkan banyak hal fatal.
Kesalahan pada saat penggunaan sistem yang diakibatkan oleh user dapat disebabkan oleh kurangnya informasi yang dimiliki user mengenai sistem yang berjalan. User harus lebih aktif bertanya dan mempelajari Prosedur Standar Pengoperasian Sistem tersebut. Orang-orang yang terkait dengan penggunaan sistem, mengerti, mengetahui dan menjalankan setiap proses sesuai dengan prosedur standar pengoperasian sistem, merupakan nara sumber terbaik untuk memberikan setiap detail informasi mengenai sistem. Kejelasan informasi yang diberikan oleh narasumber akan menjadi informasi yang berguna bagi user di dalam pengoperasian tersebut.
Pengendalian aktivitas perlu diperhatikan dimana menitikberatkan pada kebijakan dan prosedur yang ada dan telah dilaksanakan dengan baik dan benar. Pada kenyatannya masih banyak hal yang perlu dibenahi di dalam aktivitas seputar penggunaan Sistem X ini, baik user maupun sistem itu sendiri. Dengan telah adanya standar pengoperasian sistem yang telah dibuat pada saat pembuatan sistem, seharusnya sistem dapat berjalan dengan baik dan user mendapatkan informasi yang benar dari pelatihan dan standar pengoperasian manual yang didapat. Namun, kenyataannya sistem tidak berjalan sesuai dengan keinginan user seperti pada awal pengetesan sistem dan user tidak mendapatkan informasi yang baik pada saat pelatihan. Sehingga pada kebijakan dan prosedur yang telah dibuat tidak berfungsi dan tidak berjalan dengan baik.
Dalam suatu lingkungan pekerjaan, apapun jenis pekerjaan tersebut, komunikasi dan informasi adalah hal yang sangat penting. Ketepatan waktu penyampaian informasi dan cara mengkomunikasikan informasi baru harus dapat dilakukan oleh setiap individu. Ketidakmampuan melakukan komunikasi yang baik dan keterlambatan penyampaian informasi dapat mengakibatkan resiko pada pekerjaan. Adanya kebijakan baru dari manajemen. Dimana tidak semua pegawai ikut serta dalam sosialisasinya, maka pegawai yang mengikuti sosialisasi tersebut harus segera memberitahukan kepada rekannya.
Monitoring dilakukan oleh setiap level atas kepada level yang berada di bawahnya. Dan juga tidak dipungkiri bahwa setiap individu juga harus melakukan monitoring atas pekerjaan yang telah dilakukannya. Monitoring disini berguna untuk menaksir kualitas sistem pengendalian internal.
Sedangkan monitoring atas penggunaan sistem dapat dilakukan setiap saat atau secara periodic, hal ini dilakukan untuk mengetahui kebenaran dari setiap transaksi yang beresiko tinggi. Apabila terdapat kesalahan sekecil apapun harus segera dilakukan koreksi.
Pengendalian aplikasi mengacu pada spesifik aplikasi, dimana pengendalian aplikasi berfungsi sebagai penjaga dari integritas informasi dalam suatu organisasi. Pengendalian aplikasi berfokus pada keakuratan, kelengkapan data dan kebenaran data yang masuk dan ter-update dalam sistem komputer. Jika melihat pada penggunaan Sistem X diatas pengendalian aplikasi belum berfungsi dengan baik. Masih banyaknya kesalahan yang dibuat oleh user dan kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh sistem menunjukkan bahwa pengendalian aplikasi sebagai penjaga integritas belum berfungsi dengan baik.
Sehingga, perlunya keterlibatan setiap pihak yang meliputi Tim IT, user, manajemen harus benar-benar nyata dan proaktif sehingga sistem dapat berjalan dengan baik sesuai dengan prosedur standar pengoperasian sistem yang ada dan tidak menganggu kinerja user sebagai pengguna sistem.
Diposting oleh indah fitriana di 01.02
Kamis, Desember 13, 2007
Budaya Organisasi
Perusahaan tempat saya bekerja, tiga tahun belakangan ini mulai menyadari arti pentingnya suatu budaya organisasi sehingga mulai dikembangkanlah suatu nilai budaya tertentu yang didalamnya dijelaskan sikap, nilai, perilaku yang harus ada dalam diri setiap pegawainya. Dengan nilai budaya ini diharapkan tercipta budaya organisasi yang kuat yang dapat memberikan para karyawan suatu pemahaman yang jelas dari tugas-tugas yang diberikan oleh organisasi, mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku anggota-anggotanya karena tingginya tingkat kebersamaan. Budaya organisasi ini lebih jauh ditujukan untuk membina kebersamaan. Apabila karyawan diberikan pemahaman tentang budaya organisasi maka setiap karyawan akan termotivasi dan semangat kerja untuk melakukan setiap tugas-tugas yang diberikan oleh perusahaan. Hal ini salah satu kunci untuk memperoleh prestasi kerja yang optimal, sehingga produktivitas meningkat untuk mencapai tujuan organisasi.
Yang perlu disadari adalah pemimpin serta role model mempunyai peranan yang tidak kecil dalam mensosialisasikan budaya yang dimiliki. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang bersifat paternalistic yang artinya dalam hal ini butuh peran pemimpin atau orang-orang panutan yang berperan sebagai figur yang mengayomi dan membina orang lain. Figur inilah yang pada akhirnya menjadi panutan bagi seluruh anggotanya.
Dalam halnya implementasi budaya organisasi ini, peran role model sangat penting karena dialah yang harus mensosialisasikan nilai-nilai yang ada, menyatukan nilai-nilai yang berbeda didasari oleh kepentingan yang berbeda sehingga akan tercipta nilai-nilai yang dihayati bersama. Karena itu setiap tahun dipilihlah seorang yang pantas menjadi role model di setiap unit kerja di perusahaan saya, yang tentu saja diperlombakan dan pemenangnya pasti akan menambah positif nilai kinerjanya.
Tetapi, berdasarkan pengamatan saya telah terjadi suatu fenomena di tempat kerja saya yaitu maraknya implementasi budaya organisasi hanya dengan penggunaan indikator-indikator kasat mata seperti berbagai macam slogan dalam ruang kerja, pemasangan berbagai banner yang dilengkapi dengan tulisan pembangkit motivasi, ruangan yang dipenuhi dengan hiasan dan warna-warna dasar perusahaan. Dalam hal ini perlu dipertanyakan kembali adakah nilai-nilai berbagi kebersamaan (shared meaning) telah sungguh-sungguh diinternalisasi oleh anggota-anggotanya, adakah pemimpin serta role model telah sungguh-sungguh menjadikan dirinya sebagai model bagi proses belajar anggotanya, adakah budaya yang ada sungguh-sungguh terejawantah dalam pola perilaku anggota-anggotanya. Pertanyaan-pertanyaan ini hendaknya perlu direnungkan kembali agar budaya ini bukan hanya wacana atau atribut saja tetapi benar-benar terimplementasi dan berakar di setiap lapisan organisasi sehingga menjadi pondasi yang kuat agar visi dan misi perusahaan dapat dicapai.
Diposting oleh indah fitriana di 23.32